![]() |
| Ilustrasi By rellmi3 |
Selain Nabi Khidir AS tentu ada Guru lain atau Masayyikh seykh Abdul Qodir Al Jailani...lalu siapakah para Masayyikh tersebut..? Simak artikel berikut ini saya akan sedikit menjabarkan beberapa hal terkait para Guru atau Masayyikh seykh Abdul Qodir Al Jailani.
Guru-guru Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam bidang tahfiz Al-Qur'an beserta tafsir ialah kepada Syekh Ali Abu al-Wafa' al-Qail; dalam bidang fikih yang tercatat adalah Syekh Abi al-Wafa Ali bin 'Aqil (Ibn 'Aqil) dan Syekh Abi al-Khaththab al-Kalwadzani Mahfudz bin Ahmad al-Jalil; dalam bidang sastra dan bahasa Arab kepada Abi al- Husain Muhammad bin Al-Qadli Abi Ya'la; serta ulama terbesar di Baghdad, Qadhi Abu Said al-Mubarak bin 'Ali al-Muharrimi
Guru-guru lain yang tercatat adalah Abu Ghalib Muhammad al-Hasan bin Ahmad al-Hasan al-Baqillani, Abu Ghanaim Muhammad bin Ali Maimun al-Farsi, Abu al-Qasim Ali bin Ahmad al-Bayan al-Karkhi, serta ulama- ulama terkemuka lain di berbagai negeri yang ia kunjungi dalam pengembaraannya selama 40 tahun.
Sementara itu, guru al-Jilani di bidang bahasa dan tasawuf adalah Syekh Abu Zakaria Yahya bin Ali, al-Thibrizi (sekaligus sebagai guru di bidang filologi), serta berbaiat (belajar ilmu tarekat) kepada Syekh Abi al-Khair Muhammad bin Muslim al-Dabbas. Selain itu, al Jilani juga meneruskan berbaiat dan mendapatkan izin mursyid serta berhak menggunakan khirqah sufiyyah dari Syekh al-Qadli Abi Said al-Mubarak bin 'Ali al-Makhzumi.
Siapakah Mursyid terakhir seykh Abdul Qodir Al Jailani
![]() |
| Ilustrasi By rellmi3 |
Dari mursyid terakhir ini, didapatkan garis silsilah tarekat sebagai berikut: Syekh al-Qadli Abi Said al- Mubarak bin 'Ali al-Makhzumi dari Syekh Abi al-Hasan 'Ali bin Abi Yusuf al-Qurasyiy al-Hakkari, dari Syekh Abi al- Faraj al-Thurthusi, dari Syekh Abd al-Wahid al-Tamirni, dari Syekh Abi Bakr Dilif bin Jahdari al-Syibli, dari Syekh Abi al-Qasim Junaid al-Baghdadi, dari Syekh Sari al-Saqathi, dari Syekh Abi Mahfudz Ma'ruf al-Karkhi, dari Syekh Abi al-Hasan 'Ali al-Ridlo, dari Syekh Musa al-Kadzim, dari Syekh Ja'far al-Shadiq, dari Syekh Muhammad al-Baqir, dari Syekh Zain al-'Abidin, dari Sayyidina al-Husain al- Syahid bin Fathimah al-Zahra, dari Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib (Kra), dari Nabi Muhammad SAW, dari Malaikat Jibril, dari Allah SWT. Dan, inilah yang kemudian menjadi jalur silsilah ajaran tarekat Qadiriyyah."
Adapun kemudian Syekh Abdul Qadir al-Jilani sendiri mengajarkan antara lain 13 macam ilmu pengetahuan, dari sekian banyak yang dikuasainya, yakni: tafsir Al- Qur'an, hadis, al-Khilafiyyah (perbandingan fikih), ushul,al-kalam, ushul fikih, ilmu nahwu, qira'at, ilmu al-huruf, ilmu arud/qawaafi, ilmu ma'ani, ilmu badi, ilmu bayan, mantik, dan tasawuf/tarekat.
Catatan:
- Bandingkan dengan SA2, hlm. xviii
- Disebut juga Dulaf Abu Bakr al-Syibli bin Jahdar, atau menurut riwayat lain, Ja'far bin Yunus (sebuah nama yang terukir pada batu nisan yang terletak di makamnyal, seorang ulama Maliki sufi, wafat pada tahun 334 H. Pernah menjadi kepala urusan rumah tangga di istana khalifah. Setelah itu, dia memilih sufisme dan menjadi pengikut al-Juriaid, yang ajaran-ajarannya kemudian disampaikan kepada al-Nashrabadhi. Terkenal karena perilaku asketisme dan pengekangan dirinya. Konon, la biasa menaruh garam di mata untuk membuatnya tetap terjaga sepanjang shalat malamnya. Dia juga seorang ahli mazhabı fikih Maliki. Makannya di Baghdad hingga saat ini masih dihormati orang Lihat al-Sulami, Abu Abd al-Rahman Muhammad bin Husain, Kitab Tabaqat al-Shufiyah, EJ Brill, Leiden, him. 68, al-Qusyairi, JL. hlm. 150-160, Nicholson (al-Hujwiri), hlm. 155-156; Abu Bakar Ahmad al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, tp, Kairo, 1931, jl. XIV, him. 389-397: The Encyclopaedia of Islam, jl. IV, hlm. 360-361; Dermenghem, hlm, 201-230.
- Abu al-Qasim al-Junayd bin Muhammad bin Junayd al-Khazzaz al-Quwairi al-Nahawandi al-Baghdadi, seorang sufi generasi awal ke mana kebanyakan kaum sufi generasi berikutnya berujung. bermazhab Sufyan al-Tsauri, murid dari Sirri al-Saqathi dan al-Hants al-Muhasibi sa walat pada tahun 277 H/7988 M. Lihat Ibn Khalkan, Wutayat al-Ayan wa Anba Abia al-Zaman, Dar al Tagalan, Beirut, hlm 373.
- Al Sari al-Sagathi bin al-Mughalls adalah parman al Junaid dari phak ibu dan orang yang pertama-tama menyuguhkan sufisme secara sisterratis, walat tahun 251 H/865 M. Menurut al-Hujwin pilihannya kepada sufisme didorong oleh wali Baghdad Habib al-Rai yang kerika diberi sepotong roti oleh al-Sari, mengatakan Semoga Allah memberi balasan kepadamu "Sejak saat nu demikian al-San mengatakan di kemudian hari, urusan urusah duniawiku tak pernah tumbuh subur lagi Dia dipandang sebaمز murid paling berpengaruh dari Maruf al-Karkhi. Lihat artikel L Massignon dalam The Encyclopaedia of klam, jl. V, halaman. 171 Tanikh Baghdad, il bx, halaman. 187, J. Al-Murabith, al-Sani al-Sagathi Beirut, 1398, E. Dermenghem, Vies des Saints Musulmans (Edisi definitif), Paris, 1983, halaman. 115-128.
- Abu Mahfudz Maruf al-Karkhi bin Fairuz Sam'at Muhammad bin Yaqut, seorang tokoh utama dari kalangan sufi generasi awal. Wafat pada 200-201 H/815/6-816/7 M. Konon, kedua orangtuanya semula Kristen yang taat, namun sejak kecil al Karkhi telah mendapatkan bimbingan ruh untuk memegang Slan sebagai agamanya, sehingga karena keteguhannya, kedua orangtuanya masuk Islam. Dia sangat terpengaruh oleh ajaran al-Sari al-Sagathi, akan tetapi dia juga mengajar Ibn Hanbal dalam ilmu hadis. Menjadi seorang sufi yang dikenal dalam wwal dan praktik futuwah-nya. Al-Sulami meriggolongkan tokoh ini dalam rabogat pertama. Makamnya yang dibangun kembali tahun 1312 H, merupakan pusat kehidupan keagamaan yang penting di Baghdad Konon, banyak penyembuhan penyakit yang fantastik terjadi di sana. Lihat terjemah dengan pendahuluan,untuk al Hujwin, RA. Nichohon, The Kayf of Alahyut, the Oldest Persyan Treatne on Sufun, Leiden dan London, 1911, halaman. 113-115 Abu Abd al-Rahman al-Sulami, Thobaqat al-Shufiyya (peny. Pedersent. El Brill Leiden, 1960, halaman. 74-79, al-Qusyairi, of Risalah fi'Ilm al-Tashawwuf, (peny. A. Mahmud dan M al-Syarif), Kairo, 1385/1966, jl. 1, halaman. 65-68, Ibn al-Jawzy, Manaqib Maruf Karkhi wa Akhbaruh (peny. A. Al-Jabburi), Beirut, 1406/1985,
- Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, bergelar al Bagir, wafat tahun 114 H/732 M. Ayah kandung ahli hadis Jafar al-Shadiq. Dia mengajar tokoh hadis terkemuka al-Zuhri dan ahli fiidh kenamaan al-Auzal. Di kemudian hari, dia menjadi Imam kelima bagi kaum Syllah. Muhammad bin Hibban al-Bushti Masyahir Ulama' al-Amshar, (peny M. Fleischhammer), Kairo, 1959 hlm 62, Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, Al-Kasyif fi Manfa man Lahu Riwayat fi Al-Kutub al-Sitta, Beirut, 1403/1983, Jilid lll halaman. 71
- Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, seorang cucu Nabi yang wafat pada tahun 61 H/680 M. seorang sufi awal serta politisi yang Jurus. Meskipun mengakui kekhalifahan Mu'awiyah, namun menolak mengakui anaknya Yazid yang naik takhta tahun 60 H/680 M. la menentang nasihat Ibn Abbas dan Abd Allah bin Umar dengan tetap melakukan perjalanan ke Kufah bersama sebagian kecil pengikutnya dengan harapan memperoleh dukungan di sana. Akan tetapi, penduduk Kufah yang diancam Raja Yazid memeranginya di Padang Karbala, tempat di mana dan hampir seluruh keluarga gugur menjadi syuhada. Lihat artikel L. Veccia Vaglieri dalam The Encyclopaedia of islam, peny M. Houtsma (et. al), Leiden, 1927; Edisi baru, peny. JH. Kramers, HAR Gibb etal, Leiden, 1954, jl. III, hlm. 607-615
- Al-Nur al-Burhan, hlm. 25-26.



Posting Komentar
0Komentar