Konsep ketakwaan bagi orang orang yang beriman

By : S.A.Mingin
0
"Sang Mentari" Konsep ketakwaan bagi orang orang yang beriman. Dengan adanya keimanan seseorang apakah mereka selalu menunjukkan ketakwaannya terhadap Alloh, azza wa jalla. Keimanan seseorang bisa kita lihat dari seberapa takwanya mereka terhadap Alloh azza wa jalla. Sehingga dengan ketakwaan mereka, bisa kita simpulkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki pondasi keimanan yang sangat kuat. Namun jika seseorang yang memiliki ketakwaan hanya sebatas keimanan saja maka bisa di katakan bahwa keimanan seseorang masih tergolong lemah bahkan bisa runtuh keimanan seseorang karena kurangnya bertakwa terhadap Alloh azza wa jalla. Lalu bagaimana mana konsep ketakwaan bagi orang orang yang beriman..?

Simak ayat berikut ini;

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Yang artinya; "katanlah: 'Hai hamba-hambaku yang beriman, bertakwalah kepada tuhanmu, orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Q.S. Al-zumar. Hlm-39- ayat-10.

Pencerahan dan Nasehat Qolbi 


Perhatikan, Allah sangat menekankan kepada orang-orang yang beriman agar bertakwa kepadanya. Kata taqwa berkali-kali dia ulang dalam kitab sucinya sebagai suatu penegasan betapa kata itu merupakan bagian integral dalam hidup manusia. Bahkan takwa itu adalah tujuan dari seluruh ajaran Alquran. Karena Alquran diturunkan sebagai, "petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa". Q.S.Al-Baqoroh. hlm-2 ayat-2.

  Dengan demikian taqwa itu idealnya merupakan pola hidup atau gaya kita dalam menempuh hidup yang disertai dengan kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir. Bahwa Allah itu beserta kita seperti diucapkan nabi Muhammad SAW, yang kemudian diabadikan dalam Alquran; "sesungguhnya Allah itu beserta kita." Q.S. Al-ataubah-hlm-9 ayat-40.

  Ucapan nabi ini muncul sebagai respon atas ketakutan sahabatnya yaitu Abu bakar as Siddiq ketika mereka berada di dalam gua Tsur dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Lalu nabi dengan tenang mengatakan; "la tahzan Inna Allah ha ma'ana, jangan takut sesungguhnya Allah beserta kita" Q.S. Al-Taubah-hlm-9 ayat-40.

  Menurut Nurcholis masjid kesadaran bahwa Allah bersama kita mempunyai efek atau pengaruh yang sangat besar sekali dalam hidup kita. Bahwa kita ini tidak pernah sendirian, kita selalu bersama Tuhan oleh karena itu kita tidak akan takut menempuh hidup ini dan kita bersandar kepadanya. Sikap bersandar kepada Allah itu disebut tawakal. Salah satu sifat Allah ialah al wakil, artinya tempat bersandar. Firmannya; "cukuplah bagi kita itu Allah dan dialah sebaik-baik tempat bersandar atau bertawakal".Q.S.Ali Imron.hlm-3 ayat-173.

  Kemudian dampak yang kedua bahwa dengan kesadaran hadirnya Allah dalam hidup kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti yang luhur. Ke arah Al akhlak Al Karimah. Mengapa Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita maka tentunya kita tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya tidak mendapat ridho dari Allah SWT. 

  Sesuatu yang diridhoi allah itu adalah sesuatu yang sesuai dengan nurani kita. Karena dalam diri kita terdapat sesuatu sebagai mudhgah, atau segumpal daging, sebagaimana yang dikatakan nabi segumpal daging yang menentukan seluruh hidup kita; "ingatlah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging yang kalau baik maka seluruh jasadmu atau hidupmu akan baik dan kalau daging itu rusak maka seluruh jasadmu atau hidupmu pun akan rusak (daging itu adalah kalbu.") H.R.Bukhari.

  Itulah hati nurani yang Allah berikan kepada kita sebagai petunjuk pertama menempuh hidup yang benar. Maka pertama kali kita mempertimbangkan amal perbuatan ialah. Dari situ kemudian kita mendapatkan suatu rentangan garis lurus antara diri kita dengan Tuhan yang disebut Al shirath, Al Mustaqim (jalan yang lurus).

  Oleh karena itu tegas Nurcholis Madjid perbuatan baik tentu tersesuaikan dengan hati nurani. Sebagaimana Rasulullah SAW menggambarkannya kepada seorang sahabatnya yang bernama wabishah, seorang yang hidupnya sedikit kasar karena dia dari kampung, ketika wabishah bertanya kepada nabi tentang Apa itu kebajikan dan kejahatan. Nabi menjawab dengan meletakkan tangannya ke dada wabishah, dan mengatakan, "hai wabishah kebajikan itu adalah sesuatu yang membuat hatimu tenteram, sedangkan kejahatan itu adalah sesuatu yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia".

  Maka kita mengetahui bahwa sesuatu itu diridhoi oleh Allah kalau kita berbuat dengan tulus dan jujur mendengarkan hati nurani kita. Karena itu Dalam hadis disebutkan bahwa yang paling menyebabkan masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti yang luhur. Nabi SAW ditanya, "apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga?" Nabi menjawab, "dua lubang yaitu mulut dan kemaluan". H.R.Ibnu Majah.

  Jadi orang yang menjadikan dirinya taqwa sebagai landasan hidupnya maka dalam mengarungi hidup ini dia hanya akan mengisinya dengan kebaikan-kebaikan. Orang lain berterima kasih atau tidak atas perbuatan baiknya itu dia tidak peduli. Karena dia sudah memasrahkan secara total seluruh hidup dan amal kebaikannya kepada Allah azza wa jalla. Sehingga dia akan bersabar di tengah hujatan, dan tidak akan terninabobo'kan ketika dihujani dengan pujian, karena baginya pujian sejati itu datang dari Allah.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)