Beberapa faktor yang membuat seykh Abdul Qodir memperoleh penghargaan tinggi di kalangan Ulama

By : S.A.Mingin
0
Ilustrasi By rellmi3 


Faktor-faktor yang menjadikan Syekh memperoleh penghargaan tinggi di antara ulama sezamannya serta mendapat pengakuan masyarakat luas adalah konsistens Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam hal yang diajarkan dengan perilaku keseharian. Selain itu, ia juga menila kesalehan dan rasa cinta sesama yang luar biasa dan memperlihatkan kejujuran yang kuat dalam khotbah- khotbahnya. Yang patut disayangkan adalah yang selama ini diperkenalkan dan dikenal oleh masyarakat (terutama kaum awam) hanyalah mengeksploitasi segi segi kemukjizatan dan karamah Syekh Abdul Qadir al-Jilani, meskipun justru sebagin besarnya berupa mitos. Memang, mungkin saja popularitas Syekh Abdul Qadir al-Jilani sebagian diakibatkan hal ini. Informasi yang berlebih-lebihan mengenai Syekh ini berasal dari berbagai kitab manaqib yang hanya mengungkap kebaikan-kebaikannya tanpa didasarkan pada fakta historis Kitab ini ditulis oleh para pengagumnya, yang tentu saja autentisitas sejarah dan validitasnya masih banyak yang meragukan dan harus diteliti lebih lanjut Walau dermikian, bukan berarti berbagai manaqib yang ada adalah "bohong, sebab memang al-Jilani dalam sejarah sufi dikenal sebagai sosok yang selalu dipenuhi oleh karamah Allah.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani memimpin madrasah dan vibath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H hingga wafatnya di kota yang sama pada 561 H. Setelah 40 tahun lamanya membimbing masyarakat ramai yang berdatangan ke madrasah dan ribath-nya, ia wafat pada 23 Januari 1168 (11 Rabiul Akhir 561) dalam usia 91 tahun, setelah menderita sakit selama beberapa hari.

Wasiat terakhir seykh Abdul Qodir Al Jailani terhadap tiga putranya

Ilustrasi By rellmi3 

Al-Jilani wafat dengan ditunggui tiga putranya: Abd al-'Aziz, 'Abd al-Jabbar, dan 'Abd al-Wahhab. Ketiga putranya inilah yang menyaksikan wafatnya Syekh. la wafat setelah meninggalkan berbagai wasiat keagamaan, serta mengungkapkan kebersamaannya dengan Allah. Al-Jilani wafat setelah lisannya mengucapkan syahadatain beserta ucapan-ucapan kemuliaan bagi Allah, dan terakhir, seruan "Allah sebanyak tiga kali sambil mengangkat kedua tangannya. Al-Jilani dimakamkan di Bab al-Darajah, Baghdad yang kemudian menjadi tempat penting ziarah kaum sufi dan umat Islam. Mengenai tanggal wafatnya, di lingkungan pengikut al-Jilani terdapat kesepakatan, yaitu pada hari Jumat malam, tanggal 11 Rabial-Tsani.

Setelah al-Jilani wafat, madrasah dipimpin oleh anaknya yang bernama Abdal-Wahhab (552-593H/1151- 1196 M), yang kemudian dilanjutkan pula oleh anaknya yang lain bernama Abd al-Salam (548-611 H/1153-1215 M). Pada masa 'Abd al-Salam inilah lembaga pendidikan tersebut mengalami puncak kejayaan, termasuk mulai diadopsinya sistem seni musik dan gerak (tari) ke dalam tarekat Qadiriyyah. Sementara itu, anak al-Jilani yang lain, yaitu 'Abd al-Razzaq (528-603 H/1134-1206 M) adalah seorang sufi yang zahid dan terkemuka pada masanya

Setelah 'Abd al-Salam, ribath dipimpin oleh saudara sepupunya. Abu Shalih Nasr bin 'Abd al-Razaq (564-633 H/1168-1236 M). Sejak saat itu, keluarga Syekh Abdul Qadir al-Jilani banyak mengalami pengasingan oleh penguasa setempat. Madrasah dan ribath tersebut tetap bertahan dalam pimpinan keluarga Syekh Abdul Qadir al-Jilani hingga masa dihancurleburkannya kota Baghdad pada tahun 656 H/1258 M akibat serangan tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Serangan ini mengakibatkan sebagian besar keluarga Syekh Abdul Qadir musnah menjadi syuhada, dan sekaligus mengakhiri eksistensi keduanya."

Meskipun demikian, ajaran-ajaran Syekh yang diberikan dalam ribath yang dipimpinnya dan diteruskan oleh anak-anaknya tetap hidup dalam zawiyah-zawiyah, yaitu tempat para sufi melatih diri dalam kehidupannya. Ibn Bathuthah, pengelana Muslim di dunia Islam abad ke-13 M, mencatat bahwa pada waktu itu terdapat zawiyah sufi di Baghdad yang mempraktikkan ajaran- ajaran al-Jilani dalam ribath yang dipimpinnya pada, abad sebelumnya. Dari zawiyah-zawiyah inilah lambat laun terbentuk suatu komunitas Muslim penganut ajaran atau mazhab sufi Syekh Abdul Qadir al-Jilani di bidang tasawuf, yang kemudian dikenal sebagai tarekat Qadiriyyah. Sampai saat ini, makam Syekh Abdul Qadir al-Jilani di Bab al-Darajah, Baghdad banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai belahan dunia, serta masih menjadi pusat spiritualitas utama hingga dewasa ini.

Catatan sejarah seykh Abdul Qodir Al Jailani yang di dokumentasikan oleh para sejarawan dan beberapa percetakan buku atau kitab.

Catatan:

  1. Amir al-Najjar, loc. cit.
  2. Shorter Encyclopaedia of Islam, op. cit, hlm. 6. Mengenai advis Abu Yaqub Yusuf al-Harnadany terhadap Syekh Abdul qadir al-Jilani juga dikemukakan oleh Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, The University of North Caroline Press, Chapel Hill, 1983, hlm. 364
  3. Trimingham masih menyangsikan hal ini, karena menurutnya belum ada bukti ilmiah yang cukup menunjang. Lihat op. cit., him. 42, catatan no: 2. Memang, Trimingham sangat otoritatif terhadap kajian-kajiannya tentang sejarah tarekat, namun menyangkut pribadi al-Jilani, dia tampak skeptis dan pesimis.
  4. Pola ini tampak seperti cikal bakal pesantren di mana antara kial dan santri tinggal bersama; santri melaksanakan tugas kiai dalam hal keduniaan, namun Kiai bertanggung jawab atas kebutuhan nafkah santri.
  5. Shorter Encyclopaedia of Alam, op. cit, 
  6. halaman. 6 dan Trimingham loc. cit Schimmel, op, cit
  7.  lbid
  8.  Jamil Ahmad, op. cit., Juga RA, Gunardi & M Shoelhi (Edt), op Cit.
  9. Amir al-Najar, loc cit, bandingkan Shorter Encyclopaedia of Islam, op Cit, hlm. 6 yang menginformasikan bukan hari Selasa sore, melainkan Senin petang melakukan khotbah di sekolahnya Ada juga yang menyatakan bukan Ahad pagi, melainkan Babu pagi Lihat Abu Khalid, MA, Kisah Teladan dan Karomah para Su Pustaka Agung Harapan, Surabaya, tt, halaman 43.
  10. Bandingkan dengan 542, Hilman x.
  11. Trmingham, op. cit.
  12. Dalam sebagian wayat disebutkan, al lani berhasil membebaskan 5000 orang lebih ke pangkuan hlam, yang awalnya Yahudi dan Nastani Tentu saja, ini di samping keberhasilannya membina umat Islam yang sudah ada Lihat SA2, halaman, xoxoxlx
  13. SEL, ap cit, halaman. 6
  14. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Thusi al-Ghazal filosof, teolog, dan suh yang mengikuti aliran Asyary-Syafi, lahir pada tahun 450 H dan wafat pada tahun 505 H. Muhammad al Ghazal, of-Mungidz min al-Dholol, al-Maktabah al-Sya'biyah, Beirut tt, him. 221-222; Drs. H.A. Hafidz Dasuk, MA, Ensiklopedia islam PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1993, vol. 1, halaman. 25-27
  15. Muhammad bin Abu Bakar al-Syll, al-Masyra al-Rowl, cet. Th 1319 H, AL halaman, 163 sebagaimana dikutip oleh Muhammad flage Pengantar tentang Kaum Alawiyyını dalam Allamah. Sayyid Abdullah Haddad, Thanqah Menuju Kebahagiaan, Mizan, cet. X. 1998, hlm. 25-26.
  16. Jalal al-Din al-Shuyuti, di Indonesia dikenal dengan kitab tafsir al-Qur'an al-Adzim, yang kemudian dikenal sebagai kitab Jalalain sebab ditulis oleh dua orang bernama Jalal, yakni bersama Jalal al-Din al-Mahalli al-Shuyuthi lahir tahun 855/1451. DI Usia 18 tahun sudah mengajar ilmu fikih dan pada tahun 871/1467 mulai mengeluarkan fatwa. Selain sebagai pengajar, la juga dikenal sebagai penulis produktif, terutama bidang tafsir, hadis, dan hukum (fikih), la menganut mazhab Syafi'iyyah yang diperoleh dari gurunya, Al-Bulqini (791/1389-868/1464). Karyanya banyak dikaji di dunia Barat, selain dikenal di Hijaz, India, Afrika, hingga Asia, la dinobatkan oleh banyak kalangan sebagai mujtahid sekaligus mujadid pada abadnya. Pada tahun 891/1486, al- Shuyuthi mengundurkan diri dari aktivitas mengajar dan memberi fatwa karena konflik-konflik keras dengan para penentangnya di Mesir, la wafat pada 19 Jumadil Awal 911/18 Oktober 1505 Lihat E. Sartain, Jalal al-Din al-Suyuthi Biography and Background.. Cambridge, 1975, al-Suyuthi, Al-Tahadduts bi-Ni'mat Allah (Edt E. Sartain), Kairo, 1975; lihat juga Nico Kaptein, Perayaan Har Lahir Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan Penyebaran Awalnya, Sejarah di Maghrib dan Spanyol Muslim sampai Abad ke-10/ke-16 INIS, Jakarta, 1994, hlm. 45-47
  17. Bandingkan dengan Idris Syah, Jalan Sufi Reportase Dunia Ma'rifat penerjemah Joko S. Kohar dan Ita Masyitha, Risalah Gusti Surabaya, him. 146-148.
  18. El, op. cit. Tosun Bayrak menyebutkan angka 27 anak laki-laki dan 22 anak perempuan. Lihat SA2, hlm. xxxiii
  19. Bandingkan dengan SEI, op. cit, hlm. 7
  20. Fazlur Rahman, op or, halaman. 231
  21. Dibanding ajaran ajarannya, justru pengenalan masyarakat terhadap Syekh Abdul Qadir lebih dominan pada keajaiban keajaiban, keluarbiasaan, dan kesaktian/keampuhannya yang bersumber pada kitab-kitab managib yang beredar di kalangan masyarakat. Kisah hidup pertama (mengenai keajaibanı al-Jilanı terdapat dalam kitab Bahjah al-Asrar karangan Ali bin Yusuf al Syattanaufi (w. 713/1314, satu setengah abad setelah al-Jilanij Penulis berikutnya, al-Dzahabi (w. 1348), dalam Tarikh al-Islam dan banyak meragukan cerita-cerita yang berlebihan. Tidak lama kemudian, muncul 'Afif al-Din al-Yafa'i (w. 1367) yang mengarang kitab yang makin memantapkan nama al-Jilani sebagai ahli keajaiban terbesar dalam kitab Khulashah al Mulakhir fi likhtishar Manaqib al-Syekh Abd al-Qadir. Tentang kitab-kitab ini dan sumber lain mengenai al-Jilani sebagai sumber sejarah, What JS Trimingham, The Sufi Orders in Islam, hlm, 40-41, serta artikel "Abdul Qadir" dalam Encyclopaedia of Islam. Kitab terakhir ini menjadi dasar beberapa versi manaqib yang beredar di Indonesia: Setelah Yafi'i, beberapa ulama mengarang kitab yang lebih ekstrem, dan yang paling penting di antaranya adalah kitab Lujjain al-Dani oleh Ja'far bin Hasan al-Barzanji (w. 17661 pengarang yang di Indonesia terkenal dengan kitab Maulid al Barzanji-nya. Sedangkan di Indonesia, penulis pernah menjumpai ada lebih dari 10 judul kitab manaqib beredar di masyarakat.
  22. Karamah adalah kemuliaan dari Allah bagi para wali-Nya, yaitu mereka yang sudah sampai pada terminal hakekat dalam perjalanan rohani menuju makrifatullah, Karamah berada satu tingkat di atas berkah, dan satu tahap di bawah mukjizat para nabi. Karamah merupakan hal yang luar biasa, yang tidak bisa dianalisis hanya dengan akal telanjang semata. Dengan karamah ini, para wall dapat membukakan mata kepala, menyadarkan mata hati dan pikiran, serta memantapkan mata hati terhadap hakikat tauhid. Lihat KH. Jamaluddin Kafie, Tasawuf Kontemporer, Republika, Jakarta, 2003, cetakan kedua, halaman. 153.
  23. Ada yang menyebutkan tanggal 8 tahun 1166, yaitu beberapa hari setelah sakit. Lihat SA2, halaman,ixi
  24. Kisah tentang seputar kematian al-Jilanii lihat pengantar Tosun Bayrak, op. cit., hlm, ix-xii
  25. Ibid, halaman. ixil
  26. Lihat Lom'at Manaqib, hlm. 4-5. Sebagian mengatakan terjadi pada hari Senin, sedangkan menurut perhitungan kalender syamsiyah, terjadi pada hari Selasa. Untuk mengenang hal tersebut, setiap tanggal 11 Rabi al-Tsani diadakan acara haul (ulang tahun kematian) disertai pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Sedang untuk mengenang secara kecil- kecilan, umumnya masyarakat melaksanakan acara "sewelasan", yaitu acara ritual atau tradisi keagamaan setiap malam tanggal 11 bulan qomariyyah. Lihat Martin van Bruinessen, op. cit., halaman, 97
  27. Artikel "kadiriyya" dalam The Encyclopaedia of Islam, EJ. Brill Leiden, 1978, vol. IV, hlm. 202
  28. Syams al-Din Muhammad bin Abd Allah al-Tanji, seorang pengembara (jawwalah) yang terkenal karena hasil pengamatan dan penulisan atas perjalanan (rihlah) yang dilakukannya ke hampir semua penjuru dunia, termasuk di Sumatra. Dalam konteks penyebaran Islam di Indonesia ini, sajian informasinya hanya tersaingi oleh pengembara Italia Marco Polo (1252-1325) la lahir dari orangtua Moor di Tangier (Tanjah) pada 703/1304 dan wafat di Marakisy pada tahun 770/1369 atau 1378. Kisah, perjalanannya dimulai tahun 735/1325 hingga 754/1353. Pada tahun 756/1355, ia menyelesaikan penuturan perjalanannya yang ditulis oleh Ibnu Juzal atas perintah penguasa Marini Abu lyan, dan diberi judul Tuhfat al-Nazzar fi Garaib al-Amsar wo Alolb al-Asfar yang kemudian menjadi sumber penting informasi perjalanan Ibnu Bathutah hingga sekarang. Lihat Ell hlm 352-354
  29. Syekh Abd al-Qadir tidak secara langsung membangun tarekatnya, tetapi para muridnyalah yang mengaku memperoleh khirgah (semacam tanda mata dari Syekh kepada muridnya sebagai pertanda untuk berhak meneruskan ajaran tarekat yang diterimanya) dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Merekalah yang berperan dalam membangun tarekat Qadiriyyah. Lihat The Encyclopaedia of Islam, hlm 202; lihat juga Marshall G.S. Hodgson The Venture of Islam, The University of Chicago Press, Chicago, 1974, vol. II, halaman, 217.
Bagaimana menurut Anda tentang hal ini kisah seykh Abdul Qodir Al Jailani baik yang tertulis maupun yang di ceritakan dari mulut kemulut.
Jika menurut anda ini adalah hanya sebuah dongeng atau cerita yang tersebar dari mulut ke mulut atau bahkan hanya fiktif belaka. 

Mohon berilah masukan tentang hal ini.jika kisah ini kurang pas menurut pendapat atau penemuan anda sendiri.
Sampaikan masukan anda melalui kolom komentar. Tetap gunakanlah kebijakan bahasa dalam berkomentar. 


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)