![]() |
| By rellmi3 Abdul Qodir |
Dengan kisah dan cerita yang menarik maka dari itu sengaja disini saya akan sedikit membahas tentang kisah Masa kehidupan syekh Abdul Qodir Al Jailani sebagai seorang sufi hingga wafat.
Setelah membwnamkan diri dalam pencarian ilmu selama lebih dari 33 tahun, menerima ijazah dari gurunya dalam mazhab fiqih Hambali serta memiliki kapasitas ushuliyah Syafi'i rumah maka pada usia 51 tahun aldilani mulai menampakkan dirinya dengan berkhotbah, menyampaikan ajarannya serta berfatwa dalam mazhab tersebut dihadapan khalayak ramai tahun 1127 masehi sampai 521 Hijriyah sampai akhir hayatnya.
Keputusannya untuk memulai berkhotbah di hadapan publik disebabkan oleh dorongan dan bimbingan yang diberikan seorang guru spiritual bernama Yusuf Al hamadani yang diduga bermazhab Syafi'iyah.
Setelah mendapatkan restu dari seorang guru sufi besar tersebut (440 sampai 533 Hijriyah/1048 sampai 1140 Masehi) yang melakukan kunjungan spiritual di bagian pada tahun 56 Hijriyah dan mendapatkan ijazah pengajaran sufi Abdul Qodir al-jilani pun mulai banyak dikunjungi orang yang ingin menuntut ilmu, yaitu setelah membuka tabligh umum di pintu gerbang Halba baghdad. Karenanya pada tahun itu juga, ia dipercaya memimpin sebuah madrasah yang dibangun oleh masyarakat, yang semakin lama semakin tidak mampu menampung jumlah peminat yang ingin belajar di tempat tersebut titik di situlah kemudian Abdul Qodir Al Jailani bertempat tinggal bersama keluarganya yang besar sekaligus mengajar murid-muridnya yang juga tinggal bersamanya titik namun dalam hal ini statusnya masih lebih menampakan ketokohan hal silani sebagai seorang alim di bidang mazhab Hambali daripada sebagai seorang sufi sahabat-sahabat dekatnya pun menyampaikan kesaksian bahwa suasana mistik yang ditampilkan justru sangat sedikit, walaupun ia sebagai seorang pengkhotbah tanpa Brata atau asketik. Karena massa yang hadir, semakin banyak pada tahun 528 H/1134 M, ribath yang berada di luar gerbang pun diperbesar, dan sekaligus Syekh dilantik secara resmi menjadi kepalanya.
Popularitas tersebut sebagian disebabkan oleh perpaduan dua perguruan dalam diri al-Jilani, yakni pemikiran (dari pola Mutazilah) dan kerohanian (dari Nizhamiyyah). Perpaduan ini membuat al-Jilani mampu menjadi ulama yang disegani, dan khotbah-khotbahnya banyak dirindukan masyarakat dari segala kalangan.
Kefasihannya dalam bertutur dan kekayaan batin yang la miliki membuat ceramahnya mampu menarik massa yang besar. Tidak kurang dari 70-80 ribu orang berdatangan setiap kali pengajian al-Jilani dilaksanakan.
![]() |
| By rellmi3 mengkaji |
Setiap minggu, ia berbicara sebanyak tiga kali kepada murid-muridnya, dua kali di madrasah (sekolah), yaitu di idghah pada Jumat pagi dan Selasa sore atau malam, serta satu kali di ribath, dan di Musafirkhana pada Ahad pagi. Sementara itu, aktivitas keseharian al-Jilani adalah: setelah zuhur, la memberikan bimbingan, nasihat, serta konsultasi hukum dan spiritual pada orang yang mendatanginya; sebelum Ashar dan sebelum Maghrib, a membagikan roti kepada orang-orang miskin; setelah Maghrib datang, al-Jilani berbuka puasa, dan ini tidak la lakukan sendirian, sebab setiap sore menjelang Maghrib pembantunya selalu berdiri di pintu rumah, menanyai orang-orang yang lewat (yang merasa lapar) untuk diajak makan malam bersama, dan setelah Isya, ia melakukan tafakur, mujahadah, membaca Al-Qur'an, dan bermunajat kepada Allah.
Seiring dengan semakin menyebarnya ajaran tasawuf al-Jilani, maka lambat laun pencitraan terhadap Syekh lebih terbatas pada potret kesufiannya (akibat pengaruh tarekatnya yang menyebar luas, yang mana sebagian secara agak negatif), Padahal, antara konsep teologi, fikih, ushul fikih, dan tasawuf menjadi seimbang pada pribadi, intelektualitas, maupun pola akademisnya. Trimingham mencatat bahwa salah satu kesuksesan besar reputasi Syekh adalah menjadikan masyarakat biasa memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam wawasan, pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman kesufian." Sebuah prestasi yang jarang bisa dilakukan oleh imam imam sufi sepanjang zaman.
Pada 1135 M (528 H), madrasah tersebut diperluas karena jumlah murid yang hadir semakin meluber Selain itu, dibangun pula sebuah ribath (pesanggrahan, padepokan sufi) di luar pintu gerbang kota Baghdad bagi masyarakat umum yang menghadiri khotbah-khotbah Syekh, di samping digunakan sebagai ajang diskusi di antara para ulama, akademis, dan intelektual masa itu (dilakukan kebanyakan di hadapan khalayak). Daya tarik al-Jilani adalah pada khotbah-khotbahnya yang kuat mengenai moralitas dan spiritual atau kerohanian, la dipandang sebagai tokoh perintis yang mengajarkan konsep manajemen kalbu serta membuka pengajian sufi secara massal dengan retorika yang menarik. Sementara itu, tema-tema khotbahnya pun tepat dengan kondisi moralitas sosial dan politik umat Islam yang sedang merosot tajam di masa awal kehancuran kebudayaan Islam, seiring regimen Abbasiyah.
Apa yang ada dalam pikiran anda tentang cerita dan kisah ini. Jika menurut anda adalah sebuah kesalahan sekiranya mohon di maafkan
Berikat saran dan masukan buat kami untuk lebih memaksimalkan kisah kisah ataupun cerita yang lebih bermanfaat untuk kita semua.
Gunakanlah kebijakan bahasa dalam berkomentar.




Memang beliau ini adalah seorang waliyullah yang sangat masyhur dan aku suka kisah dan cerita seperti ini selain menarik pasti banyak berkahnya..semoga yang baca artikel ini dapat berkah semuah..❤️❤️❤️
BalasHapus