Bagaimana seykh Abdul Qodir membuat kaum Nasrani dan Yahudi beralih ke pangkuan Islam

By : S.A.Mingin
0

Keberhasilan khotbah al-Jilani tampak spektakuler,

By rellmi3 khutbah 


sebab di samping berhasil membuat orang-orang Nasrani dan Yahudi beralih ke pangkuan Islam, ia juga menjadikan kaum Muslim semakin baik dari segi jasmani maupun rohaninya, sehingga mereka memperoleh martabat kehidupan yang tinggi. Selama hidupnya, al Jilani dipandang mampu memperbaiki moral masyarakat, melakukan pencerahan rohani, dan meningkatkan kecerdasan beragama. Juga, ia sedikit banyak mampu memengaruhi sikap penguasa atau pejabat dikarenakan ketegasan, keteguhan, serta keberaniannya menyerukan dan menegakkan kebenaran maupun keadilan.

Selain itu, yang membuat banyak orang tertarik adalah bahwa selama hidupnya, al-Jilani selalu hidup mandiri dengan usahanya sendiri, disertai sikap zuhud, wara, dari banyak beribadah. la juga berdakwah dengan sepenuh hati, dengan semua kalangan, serta yang pertama kali menyusun blue print sistem tarekat menurut organisasi dalam disiplin ilmu tertentu, walau ia tidak pernah memaklumkan sendiri tarekatnya.

Ajaran tasawuf al-Jilani 

By rellmi3 tasawuf 


Dalam pengaruhnya terhadap keadaan-keadaan spiritual), disebut "Ilmu tentang Keadaan [jiwa]" (al-ilm al-hal). Inti dari al-ilm al-hal ini, sebagaimana ditulis oleh Syekh Abu Bakr al Syibli, adalah sebagai berikut: "Berbagai macam definis,digunakan orang untuk menjelaskan hakikat tasawuf namun yang paling tepat dan paling baik ialah seperti yang dinyatakan oleh Hujjatul Islam Abu Hamid al- Ghazali: "Tasawuf ialah pemusatan diri sepenuhnya kepada Allah SWT seraya meremehkan segala sesuatu selain-Nya. Sebagai disiplin ilmu, tasawuf adalah ilmu yang menjelaskan tentang doktrin-doktrin tertentu untuk mengukur tingkat kebaikan hati dan seluruh anggota tubuh. Seorang Muhaqqiq berkata: "Seorang sufi ialah alim yang mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Tidak mungkin ia melampaui batas inis Al-Hafidz al-Shuyuti berkata: "Banyak orang mengira bahwa siapa yang telah membaca buku-buku tasawuf, ataupun menulis dan membuat catatan atas buku-buku tersebut boleh disebut sebagai seorang sufi.

Tidak dernikianlah halnya, sebab tasawuf adalah Ilmu al-Hal (ilmu tentang keadaan) dan bukan Ilmu al-Magal (ilmu yang terucapkan) Intinya ialah menghias diri dengan akhlak mulia yang diriwayatkan dalam sunah Nabawiyyah. Karena kemasyhurannya, juga karena ajaran- ajarannya yang penuh dengan kedamaian dan me nenteramkan, maka al-Jilani mendapatkan julukan "Mawar dari Baghdad" di kalangan darwis, suatu lencana dan simbol keharmonisan kesufiannya melalui wirid (latihan,konsentrasi mengingat Allah), Julukan ini diberikan karena pada saat kehidupan Syekh, guru kebatinan (mistik) di Baghdad sudah demikian penuh dan kehadirannya sempat mendapatkan tantangan dari spiritualis yang lebin dulu ada dengan mengirimkan pesan bahwa, "Cawan (anggur) Baghdad sudah penuh." Akan tetapi, pada waktu itu, di tengah maraknya ulama ulama spiritualis, justru masyarakat Baghdad mengalami kemerosotan moral dan kegersangan spiritual, Kehadiran Syekh ternyata mampu menghadirkan "anggur" penyejuk dahaga rohani, dan menciptakan kembali harum semerbak bunga mawar tasawuf di tengah masyarakat.

Perpaduan syariat dan tarekat pada pribadi al-Jilani juga tampak dari kewajaran kehidupannya. 

By rellmi3 seruan 


Selama menempuh khalwat ('uzlah), tidak terlintas sedikit pun padanya untuk menikah, karena hal ini akan menghambat upaya rohaninya. Yang membedakan ia dengan sufi yang lain, setelah al-Jilani merasa cukup bisa menguasai nafsu dan menjadi orang sempurna, juga karena diilhami oleh perintah Rasul, serta dengan pertimbangan sebagai konsekuensi penampilan di muka umum dalam proses pergaulannya dengan masyarakat, ia menyelaraskan diri dengan perintah Rasulullah dengan menikah. Dan. ia kemudian memiliki empat orang istri salehah yang mampu menjadi teladan masyarakat.

   Kendati baru menikah di usia 51 tahun, yaitu pada tahun 521 H/1128 M, ia mempunyai 20 putra dan 29 putri dari keempat istrinya. Sejumlah putranya juga menjadi ulama dan syekh tarekat. Sebelas di antaranya disebutkan dalam Bahjat al-Asrar. Mereka antara lain adalah Syekh Abd al-Wahhab (w. 593 H/1197 M) pengelola madrasah sejak 1150 M (543 H) di Baghdad, Syekh 'Isa (w. 573 H/1177-8 M) yang bermukim dan bergiat mengajar di Mesir, Abd Allah (w. 589 H/1193 M) di Baghdad; Ibrahim (w. 592 H/1196 M) di Wasith; Yahya (w. 600 H/1204 M) di Baghdad: Muhammad (w. 601 H/1206 M) di Baghdad: Syekh Abd al-Razaq (w. 603 H/1207 M) yang ikut berdakwah di Baghdad; Abd al-Rahrnan (w. 587 H/1191 M), Abd al-Jabbar (w. 575 H/1179-80 M); Syekh Abd al-Aziz (w. 602 H/1205-6 M) pindah ke Djlyyal, sebelah desa di Sindjar, dan Syekh Musa (w. 618 H/1221 M) yang bermukim dan mengajar di Damaskus."

Putra-putranya itulah, juga para muridnya yang lain, yang berjasa membentuk tarekat sufi yang dihubungkan dengan namanya sehingga dikenal dengan sebutan tarekat Qadiriyyah Pada tahap pertama, tarekat ini tersebar di Irak, Siria, Mesir, dan Yaman, serta belakangan menyebar lagi ke berbagai penjuru dunia Islan, termasuk ke Indonesia. Selain tertua, sampai sekarang tarekat ini juga dianggap paling banyak memperoleh pengikut.Di bandingkan dengan tarekat yang lainnya.

Bagaimana mana menurut anda tentang kisah dan cerita ini apakah menurut anda ini bermanfaat atau banyak kesalahan dalam artikel ini.

Jika anda memiliki saran dan masukan silahkan kirim melalui kolom komentar. Tetap gunakanlah kebijakan bahasa dalam berkomentar.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)