Kitab seykh Abdul Qodir Al Jailani yang paling populer

By : S.A.Mingin
0
Properti of By rellmi3 



 Kitab Sirr al-Asrar merupakan pedoman ringkas esensi tasawuf. Karya ini dipandang sebagai karya yang paling jelas dalam menjabarkan istilah istilah esensi tasawuf, sejak pengajaran al-Jilani diterima oleh masyarakat luas dibandingkan karya sufi yang ia tulis sebelumnya. Dalam buku ini dijelaskan tentang sufi yang harus memenuhi kewajiban fundamentalnya (yang meliputi lima rukun Islam) secara syariat dan tarekat. Karena itu, oleh para pengamat, kitab ini dipandang sebagai jembatan antara dua karya monumental al-Jilani, yaitu al-Ghunyah dan Fath al-Ghayb, yang merupakan kumpulan ceramah tentang masalah-masalah mistik yang diperuntukkan bagi kalangan khusus. Untuk bisa mengapresiasi Fath al- Ghayb secara komprehensif, seseorang harus membaca Sirr al-Asrar terlebih dahulu. Sementara itu, al-Fath al- Rabbany merupakan pengajaran praktik kesufian bagi semua kalangan masyarakat, dan di dalamnya juga merupakan tafsir praktis atas Sirr al-Asrar, Fath al-Ghayb, dan al-Ghunya.

Jika kemudian kitab al-Fath al-Rabbany mampu menjadi kitab yang cukup populer, hal itu merupakan suatu yang wajar. Alasan utamanya antara lain adalah Pertama, kitab ini dipandang paling representatif dalam menguraikan pikiran-pikiran sufistik Syekh Abdul Qadir al-Jilani secara autentik karena ditranskrip dari ceramah ceramahnya setiap Ahad pagi dan di saat ia berada pada puncak popularitas. Kedua, kitab ini dihimpun,dari berbagai pidato al-Jilani yang disampaikan kepada khalayak ramai, sehingga kemudian menjadikannya yang paling dikenal oleh jemaahnya. Dan tentu saja, popularitas pada periode awal ini memengaruhi opini generasi selanjutnya. Yang jelas, kitab al-Fath al-Rabbany sampai saat ini menjadi salah satu literatur paling penting dalam kajian ajaran tasawuf.

Tulisan-tulisan seykh Abdul Qodir Al-Jilani

Properti of By rellmi3 







Tulisan tulisan Al Jailani (yang umumnya disunting oleh Syekh Abd al-Aziz dan Syekh 'Abd al-Razzaq) beraliran ortodoks atau tradisional, dengan beberapa penafsiran mistik-spiritual atas pasasi-pasasi Al-Qur'an dan sunah rasul. Sifat utama yang mendasari ajaran- ajaran Syekh Abdul Qadir tampaknya adalah pencegahan untuk tidak tenggelam dalam keduniaan dan penekanan pada sedekah dan kemanusiaan; ia ingin menutup pintu gerbang neraka dan membuka pintu-pintu surga bagi seluruh umat manusia sebagai pokok atau basis seluruh ajarannya sebagaimana dinyatakan dalam al-Fath al- Rabbany. Oleh karena itu, orang-orang yang sezaman dengan Syekh Abdul Qadir berbicara tentang dirinya dengan penuh hormat dan memberi pujian tentang efek besar khotbahnya, bahkan dikatakan bahwa ia telah berhasil mengislamkan banyak orang Yahudi dan Kristen, serta berhasil mengangkat derajat spiritual jemaahnya.

Tema utama rangkaian pidato-pidato al-Jilani adalah kemampuan melaksanakan prinsip asketisme dengan mengendalikan diri sendiri dari keduniaan. Karenanya, seseorang bisa terlepas dari hijab antara dirinya dengan Allah yang menghalangi kontak langsung dengan Sang Kekasih.

Sayangnya, kemudian muncul cerita-cerita yang menisbatkan segala macam keajaiban kepada diri Syekh Abdul Qadir. Legenda tentang dirinya terus bertambah, sehingga pada aliran-aliran lain yang "tidak ortodoks" dan "tidak reguler, kepribadiannya dalam pandangan masyarakat awam telah menggantikan pribadi ke agamaan Nabi Muhammad SAW." Oleh sebab itulah sang Syekh pernah mengingatkan bahwa ia merupakan "batu ujian bagi masyarakat bumi dengan kemampuan- kemampuan "ilahiah"-nya, 12

Yang jelas, karya-karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani telah mendapatkan tanggapan yang luas dari berbagai ulama, baik dalam bentuk terjemahan maupun ulasan Karya yang mengulas ajaran serta sejarah al-Jilani, antara lain, L. Rim dalam Marabouts et Khoun, Paris, 1884; A Le Chatelier dalam Confreries Musulmanes du Hijaz, Paris 1887; Dpoth et Coppoloni dalam Confreries Relegieses Musulmanes, Al-Giers, 1897: W. Braune dalam karya, terkenal Die Futuh al-Ghaib des 'Abdul Kadir, Berlin, 1933; MA. Aini dalam Un Grand Saint de l'islam, 'Abdul Kadir Jilani, Paris, 1938; W.J. Drewes & Poerbatjaraka dalam De Mirakelen Van Abdul Kadir Jilani, Bandung, 1938, dan sebagainya. Maka, wajar jika kemudian Jamil Ahmad, seorang penulis terkenal, dengan bukunya Hundred Great Muslims menempatkan al-Jilani pada urutan pertama dari tokoh-tokoh sufi dan jajaran orang-orang saleh." Ini berbeda dengan al-Ghazali yang menempati posisi ke-8 pada daftar tokoh-tokoh guru, ahli hukum, dan pemimpin agama.

Berikut beberapa Ulasan penerbit buku atau kitab kitab sejarah seykh Abdul Qodir Al Jailani :

Properti of By rellmi3 


  1. Edisi lengkap kitab ini tercantum di luar garis tepi kitab al- Shattanawfi, Bahjat al-Asrar, Kairo, 1304 H. Kitab al-Futuh al-Ghayb ini secara khusus dan menyeluruh dianalisis oleh Walter Braune, Die "Futuh al-Ghalb des Abdul Qadir, Berlin & Leipzig, 1933, berisi karya utama al-Jilani, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh M. Aftab al-Din Ahmad, Futuh al-Ghayb, Lahore, t.t.
  2. Lihat SEI, op. cit.
  3. Untuk kedua karya terakhir disebutkan oleh Syekh Syihabuddin "Umar Syuhrawardi dalam Awarif al-Ma'arif, sebuah buku daras klasik tasawuf (tokoh dan karya sufi), penerjemah Ilma Nugrahani.Ismail, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996, hlm. 295
  4.  Perhatikan dalam subbab Karya-karya Utama tentang Syek Abdul Qadir al-Jilani di bawah.
  5. Shorter Encyclopaedia of Islam, loc. cit.
  6. Lihat informasi Dr. Juhaya 5. Praja, "TON Pondok Pesantren Suryalaya dan Perkembangannya pada Masa Abah Anom (1950-1990), dalam Harun Nasution (Edt),
  7.  Thoriqot Qodiriyyah Naksabandiyyah, JAILM, Tasikmalaya, cet. IL 1991, hlm. 117 75A2, hlm w
  8. Lihat pengantar Syekh All Ashraf Direktur Jenderal. The Islamic Academy of Cambridge pada 542, hlm, vii-vi
  9. Muhammad Zuhti memberikan judul terjemahan atas kitab ini dengan tich kullati Akbar Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Toha Putera, Semarang, 1997.
  10.  Fazlur Rahman, op. cit., hlm. 230, juga SEL, op cit. hlm. 6-7
  11. ibid
  12. SEI, loc, Cit.
  13.  Diterbitkan oleh Feroz Sons Ltd, Lahore, Pakistan, yang pada 1984 mencapai cetakan ke-3. Karena buku inilah, Jamil Ahmad (w. 1984) mendapatkan pujian dari tokoh orientalis Arnold Toynbee dan Rushbrook Williams, juga cendekiawan Muslim Mahmud Husein, la juga mendapatkan penghargaan dari Raja Faisal bin Abd al-Aziz.
  14. Jamil Ahmad, op cit, hlm. 106-108
  15. ibid, him, 97-101. Upaya mempertanyakan kembali posisi al Ghazali dalam sejarah pemikiran islam karena kegagalan upaya intelektualnya, lihat dalam pengantar Kautsar Azhari Noor dalam Ayn al-Quddat al-Hamadzani, Sang Penantang Tuhan: Pembelaan Seorang Sufi Syahid, Hikmah, Jakarta, 2002, hlm. 10-11, Julian Baldick malah menyebut al-Ghazali hanya sebagai seseorang yang mengandalkan "omong besar-nya. Lihat Julian Baldick, Mystical Islam: An Introduction to Sufism, penerjemah Satrio Wahono, PT Serambi, Jakarta, 2002. hlm. 36.
Apa yang anda pikirkan tentang hal ini apakah menurut anda adalah sebuah kebenaran yang telah ada atau bahkan sebuah kesalahan jika menurut anda ini adalah sebuah kesalahan ataupun kebenaran tentang kisah dan beberapa kitab-kitab seykh Abdul Qodir Jaelani.

Apabila anda mempunyai kritik dan saran atau sebuah masukan kirim saja melalui kolom komentar. Tetap gunakanlah kebijakan bahasa dalam berkomentar






Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)