Kisah pengembara sufi di padang pasir Irak

By : S.A.Mingin
0

 

By rellmi3 Padang pasir 

Ribath Al,Dabbas terasa memuakkan bagi al-jilani karena sifat murid-muridnya yang tidak bersahabat dengannya sebab ia mengikuti mazhab Hambali sementara Al, Dabbas mengikuti mazhab asy raisme Syafi'iyah setelah itu ia menghabiskan 25 tahun dari usianya sebagai seorang pengembara sufi di padang pasir Irak memang sejak tahun 488/1127, yaitu saat dia mulai terkenal sebagai seorang ulama besar mazhab Hambali di kota yang sama terentang sebuah masa usia tanpa keterangan aktivitas yang akurat titik belum ada informasi yang cukup memuaskan mengenai perubahan Al Jailani dari pengkhotbah Hambali yang tenang menjadi prototipe wali yang dimuliakan di seluruh dunia Islam.

Mungkin masa itu digunakannya untuk mengembara sebagai seorang sufi yang fakir di padang pasir Irak sebagaimana sudah dikemukakan dan pada saat itu berguru kepada Abu said Al muharimmi di sekolah bab Al Azll di pinggiran Baghdad, atau juga iya gunakan untuk melakukan perjalanan ibadah haji ke tanah suci dan menjalani kehidupan berkeluarga sebagaimana dikemukakan oleh Gibb dan kramers. Namun diduga saat kepindahannya menjadi seorang sufi itu, terjadi pula-pola perpindahan ke mazhaban fiqihnya yakni dari mazhab Hambali menjadi mazhab Syafi'iyah yang lebih memiliki kedekatan khas dengan sufisme.

Beberapa catatan sejarah dalam buku atau kitab mengenai seykh Abdul Qodir Al Jailani 

By rellmi3 sejarah 

Catatan:

  1. Terdapat beberapa versi mengenai kedua ejaan terakhir Zaid Abi Sholeh yang tampaknya lebih merupakan bahasa versi daripada bahasa Arab titik kata "zangi, sering dieja pula dengan kata zanki, jangki, dan zanggi,dan juga janka. Sedangkan kata daosat sering dieja pula dengan Dausat,Dost dan dasti. Berbagai perbedaan yang berasal dari berbagai versi manaqib syekh Abdul Qodir ini ternyata juga sering mempengaruhi para peneliti dalam menyebutkan nama ayah syekh Abdul Qodir Al Jailani.
  2. Jaelani atau Kailani, Jilan Gilan/kilan, atau aljil ialah nama suatu wilayah yang letaknya berdekatan dengan tabaristan atau Selatan Laut Kaspia. Dan sekarang menjadi suatu provinsi dari Republik Islam Iran. Orang-orang ajam atau non Arab biasa menyebutnya kilan atau kailan. Sementara orang menyebutnya atau menyebutkan rumah jika nama seseorang dinisbatkan kepada wilayahnya maka disebut Jilani tetapi kalau dinisbatkan kepada penduduknya disebut jilid. lihat dokter yunasril Ali, manusia Citra ilahi pengembangan konsep insan Kamil IBN arabi oleh Al jili, Paramadina Jakarta, 1997, halaman 32 sampai 33 lihat pula yaqut , mu,jam al,buldan dar al sahdir. Beirut 1986, Jil,lll, halaman 201. Maka wajar jika kadang syekh Abdul Qodir disebut juga dengan Abdul Qodir Al jili. Lihat misalnya G.E.Von Grunebaumm atau trans katherine waston. Classical Islam, a history 600 sampai 1258, Aldin publishing company Chicago, 1970 halaman 195 sampai 196. Dan 209. Namun esensinya sama yakni orang yang berasal dari Jilan. Para ahli sering menganggap bahwa yang dimaksud Jilan ada di bagian utara Iran. Namun orang-orang Kurdi mengklaim bahwa memang sangat masuk akal bahwa Abdul Qodir berasal dari daerah Jilan di kurdistan Selatan. 150 KM timur laut kota d, sehingga di sana juga digelari sebagai ghaust Al Kurdi. Lihat Martin Van Bruinessen, kitab kuning, pesantren dan tarekat, Mizan, Bandung, cetakan ketiga 1999, halaman 211.
  3. H.A.R. Gibb dan J.H. kramers, shorter encyclopedia of islamic (SEI) E.J. Brill leiden 1953 sampai 1961 vol.1,hlm.5. 
  4. Julukan syekh, dalam dunia tasawuf ditujukan kepada yang memiliki otoritas mutlak pemimpin sufi. Di Persia dan India julukan syekh dikenal dengan sebutan pir atau Mursyid" sementara di Afrika negro  disebut muqaddam. Sedang murid-murid spiritualnya disebut fakir atau yang membutuhkan, Darwis atau murid ataupun pengikut atau ikhwani, yang populer juga dengan ikhwan atau saudara-saudara, atau Ashab ataupun teman-teman atau companions. Julukan-julukan tersebut merupakan prinsip undang-undang pokok organisasi sufi. lihat fazlur Rahman, Islam, penerjemah ahsin Mohammad Bandung: pustaka cetakan ketiga 1997 halaman 223.
  5. J.spencer trimingham the sufi orders in islam, Oxford university press 1973 halaman 40. Kebanyakan pengamat dan peminat studi ini menyatakan hal serupa, karena selama ini biografi yang beredar adalah apa yang dikenal sebagai manaqib suatu cerita-cerita mistik turun temurun, bukan merupakan fakta sejarah walaupun sebagian kecil diantaranya ada yang benar.
  6. Ibid, catatan nomor 5 halaman 40 sampai 41 titik umumnya disebut sebagai manaqib atau kisah tentang kebaikan dan kelebihan seseorang yang dianggap dekat dengan Allah subhanahu wa ta'ala atau waliyullah. 
  7. Lihat Walter browne , Die futuh al,ghaib,des Abdul Qodir, Berlin dan Leipzig 1933 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh M.Aftab  Al din Ahmad Lahore tertulis juga AnneMarie schimmel, mystical dimension of Islam the university of north Caroline press chopel hill 1981 halaman 38. Pengakuan serupa diberikan hampir oleh seluruh intelektual dan ulama pengkaji, peminat, dan pelaku tasawuf. Bandingkan pula dengan Martin yang menulis di kalangan sufi, Abdul Qodir diakui sebagai ghaust dan qhutb Al Aulia yang menduduki tingkat kewalian tertinggi lebih daripada wali lain syekh Abdul Qodir dikagumi dan dicintai rakyat, di mana-mana orang tua menceritakan riwayat tentang karomah karomahnya kepada anak-anak mereka, dan pada hampir setiap upacara keagamaan tradisional, orang menghadiahkan pembacaan alfatihah kepadanya. Martin Van Bruinessen,op,Cit, halaman 210 sampai 211.
  8. Lihat buku Ali Aini, UN grand Saint de I'Islam: Abdul,Al kadir Guilaini, edisi ke2 Paris 1967.
  9. Jailang dulu masuk ke wilayah tabaristan tetapi sekarang sudah memisahkan diri dari tabaristan dan masuk wilayah Irak.
  10. Trimingham J.Spenser, the sufi orders in Islam, Oxford university press London, Oxford New York, 1971 halaman 41.
  11. Sebutan-sebutan yang disandangkan kepada beliau antara lain Ghauts al-adzam, Quthbb Al Rabbani, Al Haykal, al,shamadani. Qandil alaam'l Al nurani, shulthan Al Aulia wa al Arifin, Burhan Al ashfiyah, Solihin, dan basz Allah Al azhab.
Dalam literatur kesufian.

By rellmi3 sufi



Pengakuan sebagai al Ghauts atau Quthbb Al Aulia merupakan kedudukan tingkat kewalian yang tertinggi. Lihat Martin Van Bruinessen , kitab kuning pesantren dan tarekat, Mizan Bandung, cetakan ketiga 1999 halaman 211. Justru yang memberikan gelar Quthbb Al Aulia ataupun Al hadits Al Adzam adalah syekh Al Akbar Ibnu arabi dalam kitab Al futuhat, Al makkiyah. Selain julukan-julukan tersebut, syekh juga mendapatkan julukan dari para pengikutnya; musyahid Allah Amr Allah, fadhl,aman, Allah,Nur Allah, Quthbb Allah, Said Allah, Amr Allah, Firman Allah, Burhan Allah, Ayat Allah, Ghauts, Allah, dan Al Ghauts, Al Adzam. Lihat SEI OP, CIt, halaman 7. Intinya adalah gelar bare pir sahib " (atau orang suci yang agung). Lihat Jamil Ahmad 100 muslim terkemuka, pustaka firdaus Jakarta cetakan keempat 1994 halaman 106.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)