![]() |
| Properti of By rellmi3 |
Setelah menimbang pengetahuan agama di tempat kelahiran sendiri, antara lain di samping sudah menghafal Alquran juga kitab Al muwattahnya Imam Malik pada 1095(488) iya terdorong untuk merantau ke Baghdad, pada usia 18 tahun yang pada saat itu masih merupakan pusat peradaban dan pemberitahuan untuk mempelajari filsafat dan hukum terutama mazhab Hambali. Ibunya lah yang selalu memberikan dorongan semangat untuk melanjutkan studinya di Baghdad Al Jaelani berangkat dengan bergabung dalam sebuah kafilah kecil yang berniaga kepada titik pada waktu itu Baghdad merupakan pusat peradaban dan perdagangan dunia.
Setibanya di Baghdad menurut sementara riwayat Al Jailani tidak langsung memasuki gerbang kota melainkan memilih tinggal di gurun pasir di luar kota Baghdad dan tinggal di sebuah kastil atau reruntuhan istana raja-raja kuno Persia di daerah karkh untuk berkhalwat titik setelah beberapa tahun baru Al Jaelani memasuki kota Baghdad untuk menuntut ilmu.
Di kota mana syekh Abdul Qodir Al Jailani menimba ilmu pertama kali..?
![]() |
| Properti of By rellmi3 |
Di kota ini Al Jaelani menimba ilmu pengetahuan agama sebanyak mungkin ia menjumpai para ulama berguru dan bersahabat dengan mereka, sampai kelak ia berhasil menjadi ulama yang menguasai ilmu lahir dan ilmu batin di Baghdad pengetahuan legal fiqih ia mengikuti pengajaran Al Hambali suatu mazhab yang menolak total hampir semua praktek mistik yang aneh-aneh bahkan kadang juga menolak tasawuf. Aljalani mengikuti perguruan fiqih ini setelah ditolak masuk perguruan Nizyahmiyyah di Baghdad.
Setibanya di Baghdad iya memang berniat masuk ke perguruan nizhamiyah Baghdad yang pada saat itu merupakan perguruan tinggi yang sangat prestisius di Baghdad.
Akan tetapi ia ditolak oleh Ahmad Al Ghazali, yang menggantikan posisi jabatan rektor saudaranya, Abu Hamid Al Ghazali. Keduanya diangkat oleh perdana menteri dinasti saljuk Nizam Al Mulk maka kemudian ia mengikuti semacam kursus fiqih mazhab Hambali yang dipimpin oleh Abu said Al mukarimi. Bahkan kemudian Al Jailani diangkat sebagai tangan kanan pertama faqih hambaliyah dengan mendapatkan ijazah( khirqo) dari Abu Sa,d Mubarok Ali Al mukarini atas perintah Al Qadir. Namun demikian walaupun sejak kecil tradisi dengan mazhab Hambali banyak sumber menyebutkan setelah menjadi Mufti ia lebih banyak memberikan fatwa dalam garis Mazhab Syafi'iyah.
Sementara itu salah seorang pembimbingnya dalam bidang tasawuf sebagai guru sufi pertama kalinya adalah Abu Al Khoir Ahmad Aldo bass (w. 1131/525H) yang mengantarkannya menjadi guru sufi. Merupakan seorang suci yang cukup berpengaruh dan termasuk dalam garis pengikut hal syarani titik ia disegani sebagai seorang faqih dan dihormati sebagai seorang sufi dengan ribuan santri setiap tahunnya.
Di Baghdad bola ini Abdul Qodir Al Jailani menimba ilmu filologi pada abu Zakaria aldibrizi (w. 502/1109). Yang juga merupakan salah seorang rektor perguruan Nizyahmiyyah, tempat Al Jailani menjadi murid kesayangannya selama 8 tahun.
Apa yang terjadi setelah syekh Abdul Qodir Al Jailani ditolak di perguruan tinggi Nizhamiyah.
Namun penolakan di perguruan Nizhamiyah tersebut memberikan hikmah yang besar. Justru setelah ia menjadi imam fiqih mazhab Hambali dan kemudian mendapatkan bimbingan tasawuf yang intensif inilah Al Jilani mencatat prestasi besar dalam sejarah Islam. Karena ia berhasil menggabungkan hukum-hukum ilegal objektif atau dalam hal ini fiqih. Dengan kondisi kegembiraan jiwa pribadi luar biasa, yakni aspek spiritual tasawuf yang merupakan pengalaman keagamaan subjektif (kombinasi rejilion of the law with ekstatik individualisme) di samping juga berhasil menjaga kedudukan orang suci atau wali tetap berada di bawah nabi. Al jaelanilah yang pertama kali memegang posisi sebagai pemandu syariat dan tarekat sehingga menjadi harmonis dalam tataran aplikatif. Inilah yang membedakannya dengan Al Ghazali yang dipandang para pengamat sebagai pemandu syariat dan tarekat, namun sebenarnya tidak berhasil kecuali hanya secara teoretis maka Al Jailani yang kemudian mewujudkannya.




Posting Komentar
0Komentar