"Sang Mentari" Nasehat Qolbi Untuk Mukmin sejati, dalam kehidupan manusia tentu seringkali kita mendapati suatu hal yang mungkin searah dengan pemikiran kita terkadang juga sebaliknya kita juga seringkali mendapati kejadian yang tidak sepemikiran dengan kita. Atau suatu hal yang terjadi yang tidak kita kehendaki dan tidak kita inginkan. Lalu bagaimana menyikapi hal ini tentang kejadian dalam hidup yang berkaitan dengan sang maha pencipta Allah azza wa jalla. Baca artikel ini dengan cermat karena di sini saya akan menuliskan tentang bagaimana menjadi mukmin yang sejati.
Seperti yang tertulis dalam ayat berikut ini.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
"Dan janganlah kamu seperti orang orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lapa kepada diri mereka sendiri" (QS. Al-Hasyr [59]: 19).
Nasehat Qolbi.
Anas meriwayatkan: muadz bin Jabal berkunjung ke kediaman Rasulullah SAW sembari menangis. Lantas Rasulullah bertanya kepadanya, "apa yang ada di benakmu di waktu pagi hari?" Kaifah ashabaHatta ya muadz. Muadz menjawab; aku merasa sebagai seorang mukmin sejati. Ashabahatu muminan Haqqan. Selanjutnya nabi mengajarkannya dengan pertanyaan baru."setiap ucapan itu pasti memiliki argumentasi; lalu apa argumentasi dari ucapanmu tadi?" Dengan cerdas Mu'adz menukar. "Wahai nabi Allah aku tidak pernah menikmati pagi hari kecuali dengan aku memprediksikan bahwa aku tidak akan mendapati waktu sore. Demikian pula sebaliknya aku tidak pernah menikmati sore hari kecuali aku menduga bahwa aku tidak akan mendapati waktu pagi. Aku tidak pernah berjalan kaki walaupun hanya selangkah kecuali aku menduga bahwa kakiku yang lain tidak akan sempat menyusul kaki sebelahnya yang telah terlebih dahulu melangkah. Seolah-olah aku melihat setiap umat yang berlutut di hadirat ilahi itu dipanggil untuk menerima buku catatan amalnya; bersama mereka para pendeta dan sesembahannya yang mereka mempertuhankan selain Allah. Juga seolah-olah aku menyaksikan hukum penghuni neraka dan ganjaran penghuni surga. "Nabi SAW kemudian berkomentar pendek, "engkau telah memahaminya dengan baik maka yakinlah!"
Untuk menjadi Mukmin sejati kita harus selalu ingat kepada Allah agar Allah akan selalu ingat kepada kita. Firmannya; "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri Mereka itulah orang-orang yang fasik". Q.S.Al,Hasyr. Ayat 19.
Ibnu qayyim Al jauzi dalam kitabnya Dar as sya,adah, atau negeri bahagia, menafsirkan ayat ini sebagai berikut; perhatikan ayat ini. Q.S. Al,Hasyr.ayat 19, niscaya akan anda temukan di dalamnya pesan yang sangat mulia dan mendalam. Yakni bahwa siapapun yang lupa kepada Allah Allah akan membuatnya lupa kepada dirinya sendiri sehingga dia tidak mengenal lagi Siapa dirinya sebenarnya dan apa yang perlu diperbuat untuk kebahagiaan dirinya. Bahkan dia pun akan dibuat lupa jalan hidup yang akan ditempuhnya untuk kebahagiaan dirinya sendiri baik untuk kehidupan dunia sekarang atau kehidupan akhirat kelak sehingga dia hidup dalam kekosongan dan hampa sama saja dengan binatang ternak yang dihalau-halu.
Bahkan terkadang binatang ternak itu lebih tahu apa yang baik untuk memelihara hidupnya dengan petunjuk naluri atau insting yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tetapi manusia yang telah lupa diri ini dia telah keluar dari garis fitrahnya yang dengannya dia diciptakan. Dia telah lupa kepada Allah maka dia dibuat lupa oleh Allah kepada dirinya sendiri sehingga dia tidak ingat lagi bagaimana agar dirinya mencapai kesempurnaan, bagaimana agar dia bersih dan bagaimana dia mencapai kebahagiaan sekarang dan yang akan datang.
Dan pada gilirannya Allah pun akan memasukkannya ke kelompok orang-orang yang fasik: mereka itulah orang-orang yang fasik yakni yang perjalanan hidupnya tidak sesuai dengan koridor agama Allah sebab itulah hidupnya kosong dan hampa. Meskipun hidup dalam gelimang harta dan popularitas tetapi hatinya rapuh serapuh rumah laba-laba. Atau seperti disebut dalam puisi. T.S. Elliot
- Kami adalah orang-orang hampa,
- Yang hidup dalam kesesakan
- Kepala kami berselubung jerami, sayang!.
- Dibentuk tanpa bentuk dinaungi tanpa warna kekuatan-kekuatan kami timpang.


Posting Komentar
0Komentar