Jangan berlarut dalam kesedihan
Simak ayat sebagai berikut;
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Yang artinya; "ya Tuhanku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan yang maha penyayang diantara semua penyayang" Q.S. AL,Anbiya ayat.83.
Nasehat Qolbi atau pencerahan
Dikisahkan oleh nabi Ayub dari perkataan nabi Ayub itu kita bisa memahami bahwa penderitaan yang beliau alami semata-mata karena kasih sayang Allah. Bukan seperti anggapan bagi sementara orang,"penderitaan adalah karena ketidakadilan." Nah cobalah perbaiki pola pikir anda ketika dihadapkan dengan berbagai musibah. Bacalah Alquran dan pahamilah isinya niscaya ia akan memberikan solusi atas penderitaan anda.
Aidh al qarni dalam bukunya la tahzan memberikan nasehat; "jangan resah dengan musibah musibah yang menimpa diri Anda dan jangan mengeluh dengan kegetiran keketiran yang datang bertubi-tubi. Dalam hadis disebutkan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum maka dia akan mendatangkan cobaan kepada mereka dan barangsiapa yang rela dengan ujian itu maka akan memperoleh kerelaannya atau keridhoannya dan barangsiapa yang membencinya maka dia akan memperoleh kebenciannya atau murkanya."
Al Ghazali dalam bukunya Al mawa izh Vi Al hadits al qudsiyah menyebutkan sebuah hadis qudsi di mana Allah berfirman;
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : شَهِدَتْ نَفْسِي ، أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي لأَشَرِيكَ لِي ، مُحَمَّدٌ عَبْدِي وَرَسُولِي ، مَنْ لَمْ يَرْضَ بقضائي ، وَلَمْ يَصْبِرُ عَلَى بَلَاتِي ، وَلَمْ يَشْكُرْ عَلَى نَعْمَانِي ، وَلَمْ يَقْنَعُ بِعَطَائِي، فَلْيَعْبُدْ رَبَّا سِوَالِي، وَمَنْ أَصْبَحَ حَزِيَّنَا عَلَى الدُّنْيَا فَكَأَنَّمَا أَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَيَّ ، وَمَنِ اشْتَكَى عَلَى مُصِيبَةٍ فَقَدْ شَكَانِي ، وَمَنْ دَخَلَ عَلَى عنِي فَتَوَاضَعَ لَهُ مِنْ أَجل غنائه ذَهَبَ ثُلُنَا دِينِهِ، وَمَنْ لعَلمَ وَجْهَهُ عَلَى مَيْت فَكَأَنَّمَا أَخَذَ رَحْمًا يُقَاتِلُنِي بِهِ، وَمَنْ كَسَرَ عُودًا عَلَى قَبْرٍ فَكَأَنَّهُ هَدَمَ بَابَ كَعْبَتِي، وَمَنْ لَمْ يُبَالِ مِنْ أَيِّ بَابِ يَأْكُلُ ، مَا يُيَالِي مِنْ أَيِّ بَابٍ يُدْخِلُهُ اللَّهُ تَعَالَى جَهَنَّمَ ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ فِي الرِّيَادَةِ فِي
دِينِهِ فَهُوَ فِي التَّقْصَانِ، وَمَنْ كَانَ فِي التَّقْصَانِ فَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ ، وَمَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللَّهُ تَعَالَى عِلْمَ مَالَمْ يَعْلَمُ ، وَمَنْ أَطَالَ أَمَلَهُ لَمْ يَخْلُصْ عَمَلُهُ
Yang artinya; "aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Aku. Tidak sekutu bagiku dan Muhammad adalah hamba dan utusanku. Barang siapa tidak mau menerima suratan nasib yang telah aku putuskan, tidak bersabar atas segala cobaan yang aku berikan, tidak mau berterima kasih atas segala nikmat yang aku curahkan, dan tidak mau menerima apa adanya atas segala yang aku berikan maka sembahlah Tuhan selain aku. Barang siapa yang susah karena urusan dunia sama saja ia marah kepadaku. barang siapa mengadukan musibah yang menimpa dirinya pada sesama manusia ia sungguh-sungguh berkeluh kesah kepadaku.kepadaku. barang siapa menghadap orang kaya dengan menundukkan diri karena kekayaannya maka lenyaplah dua pertiga agamanya. barang siapa menampar mukanya atas kematian seseorang maka ia sama saja dengan mengambil sebuah tombak untuk memerangi aku. barang siapa memecah kayu di atas kubur maka ia sama saja dengan merobohkan pintu Ka'bah ku. barang siapa tidak peduli terhadap cara mendapatkan makanan berarti ia tidak memperdulikan dari pintu mana Allah akan memasukkannya ke dalam neraka jahanam. barang siapa tidak bertambah tingkat penghayatan keagamaannya sungguh ia dalam keadaan selalu berkurang titik barang siapa yang terus-menerus dalam keadaan berkurang kematian adalah jauh lebih baik baginya. Barang siapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Allah akan menganugerahkan ilmu yang belum ia ketahui. barang siapa yang angan-angannya membumbung tinggi maka amal perbuatannya akan keruh"
Keke cewaan yang tidak ada artinya
Nasehat Qolbi atau pencerahan
Dalam bukunya la tahzan. Inna maal usri Yusro, syekh Muhammad Abdul Adha Bukhairi mengingatkan pentingnya kita berkaca kepada nabi agung Muhammad SAW dalam menyikapi hidup ini. Menurutnya nabi kita yang agung ini telah mengajari betapa pentingnya RI dho kepada keputusan Allah. Beliau melihat bahwa Al Khaliq sang maha pencipta adalah raja dan raja memiliki wewenang untuk mengatur orang-orang yang berada dalam kekuasaannya. Nabi kita memandangnya sebagai dzat yang maha bijaksana, yang tidak pernah membuat sesuatu yang sia. Maka dia menyerahkan diri layaknya rakyat berserah diri kepada raja yang bijaksana.
Allah mengutusnya kepada makhluk sendirian sementara kekufuran telah memenuhi ufuk. Beliau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dan kemudian berlindung di rumah arqam. Mereka memukulinya jika beliau keluar, maka berdarahlah tumitnya. Beliau keluar pada setiap musim dan berkata, "siapa yang melindungiku siapa yang menolongku?".
Ketika masa-masa awal dakwahnya beliau diusir dari Mekah dan tidak bisa kembali kecuali dengan jaminan keamanan yang diberikan oleh seorang kafir al-muthi almuth'im Adi, beliau sama sekali tidak menyesal dan menggerutu. Bahkan beliau dengan mantap meneruskan misinya.
Ketika Allah menguji nabi dengan kelaparan, beliau mengikat batu di perutnya untuk menghilangkan rasa laparnya. Dan dengan tulus beliau pasrah kepada rabbnya.karena dialah pemilik perbendaharaan langit dan bumi.
Saat para sahabatnya dibunuh, wajahnya terluka giginya rontok jasad Paman tercintanya Hamzah bin Abdul Muthalib dicabik-cabik. Beliau tetap tenang dan sabar.
Di lain waktu Allah mengujinya dengan memberi anak laki-laki bernama Ibrahim, namun diambil kembali ketika beliau asyik asyiknya menyaksikan kelucuannya, beliau menghibur diri dengan dua cucu kesayangannya Hasan dan Husein. Lalu mengabarkan kepada keduanya tentang balasan yang akan diberikan kepadanya. Dan masih banyak lagi ujian yang dialaminya.
Sang Mentari
Terimakasih atas kunjungan Anda semoga ini bermanfaat untuk kita semua. Jika anda memiliki saran kritik dan masukan silakan kirim melalui kolom komentar.Dan tetaplah gunakan kebijakan bahasa dalam berkomentar.
Ikuti kami untuk mendapatkan informasi menarik dan terbaru dari kami.



Posting Komentar
0Komentar